MAKALAH
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP
EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN ISLAM
DISUSUN
OLEH:
- MUHAMAD KAMSUDINNIM: 141415056
DOSEN
PEMBIMBING: MUHAMMAD
RIFA’I
SEKOLAH
TINGGI ISLAM RAHMANIYAHSEKAYU
KAMPUS E BAYUNG LENCIR
T.A.
2016
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan kepada kita
sehingga kita bisa merasakan indahnya nikmat iman dan islam.
Alhamdulillah,berkat
keridoa-Nya kami bisa menyusun makalah yang bertemakan Pengertian dan Ruang lingkup Epistemologi
Pendidikan Islam dapat terselesaikan sesuai yang diharapkan. Makalah ini
dimaksudkan untuk memenuhi tugas dari mata kuliah ilmu kalam. Kami ucapkan
terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Pak Muhammad Rifa’I,M.A. yang
telah memberi kesempatan kepada kami untuk membahas tema ini. Semoga makalah
ini bisa menjadi bahan bacaan dan pembalajaran yang bermanfaat dan menambah
ilmu pengetahuan kita bersama
Bayung lencir,23 Maret 2016
Penyusun
Muhamad
Kamsudin
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Globalisasi cepat atau lambat
dipastikan akan dihadapi oleh manusia. Secara logis masalah yang akan dihadapi
manusia semakin kompleks dan transenden serta memerlukan pemecahan masalah yang
sistematis dan kontinuitas. Dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin
kompetitif ini, masih banyak para praktisi muslim memiliki komitmen untuk lebih
memprioritaskan pendidikan religiusitas dibandingkan pendidikan umum lainnya.
Sekaligus mengabaikan dan menolak segala pesan dan invensi perkembangan yang
dibawa oleh komuniti Barat. Sehingga mempermudah mereka untuk menanamkan
idealisme sekuleristik terhadap masyarakat muslim. Moralitas, akhlak, dan
nilai-nilai islamiyah menjadi bagian yang tabu dan tidak lagi membatasi manusia
antara kekufuran dan kemaslahatan dan jika dibiarkan berlarut-larut akan
mengantarkan Islam pada kemunduran dan kehancuran, Antisipatif problema seperti
ini yang harus direncanakan seoptimal mungkin. Hal ini mengindikasikan bahwa
umat muslim harus mampu mengadopsi serta memfilterisasi setiap budaya dan
perkembangan yang masuk. Upaya pembenahan ini dapat dilakukan melalui
pendidikan, yaitu menciptakan sumber daya manusia yang utuh, yang selalu
bertanggung jawab terhadap keberadaannya didunia dan merencanakan untuk
kehidupan akherat. Sehingga keseimbangan antara dunia dan akherat yang menjadi
tujuan terakhir manusia sebagai khalifah Allah SWT dapat di aktualisasikan
dengan maksimal.
Persoalan epistemologi sangat dipandang serius sehingga filosof
Yunani, Aristoteles, berusaha menyusun kaidah-kaidah logika sebagai aturan
dalam berpikir dan berargumentasi secara benar yang hingga sampai sekarang ini
masih digunakan. Adanya kaidah itu menjadi penyebab berkembangnya penangkapan
akal yang dapat di pertanggung jawabkan.
Sebenarnya, epistemologi bukanlah permasalahan pertama
yang muncul dalam tradisi pemikiran manusia. Dahulu, aktifitas berfikir
manusia, terutama filsafat, dimulai dari wilayah metafisika. Di antara
pertanyaan-pertanyaan metafisika yang muncul waktu itu adalah: Apa itu Tuhan?
Apa yang dimaksud dunia ? Apa itu jiwa ? Mereka
mendapatkan berbagai jawaban tentang pertanyaan- pertanyaan tersebut,
masing-masing saling bertentangan. Berawal dari fakta ini, mereka tidak lagi
mengarah pada petanyaan pada dunia luar, tetapi mereka mengarah kepada aktifitas
mengetahui itu sendiri. Di sinilah
manusia mulai masuk kedalam ranah epistemologi.[1][1]
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian
Epistemologi ?
2 Apa saja Objek
/ Ruang Lingkup Epistemologi?
C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui pengertian
dari Epitemologi.
2. Mengetahui ruang lingkup
Epistemologi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Epistemologi
Secara
linguistik kata “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu: kata “Episteme”
dengan arti pengetahuan dan kata “Logos” berarti teori, uraian, atau
alasan. Epistemologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan yang
dalam bahasa Inggris dipergunakan istilah theory of knowledge.[2][2] Istilah
epistemologi secara etimologis diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar
dan dalam bahasa Indonesia disebut filsafat pengetahuan. Secara terminology, ada beberapa pendapat yaitu :
- Dagobert D.Runes dalam bukunya “Dictionary of Philisophy”,mengatakan Epistemologi sebagai cabang filsafat yang menyelidiki tentang keaslian pengertian,struktur,mode,dan validitas pengetahuan.
- Harun Nasution dalam bukunya “Filsafat Agama”,mengatakan bahwa Epistemologi adalah ilmu yang membahas apa pengetahuan itu dan bagaimana memperolehnya.
- Fudyartanto,mengatakan bahwa Epistemologi adalah ilmu filsafat tentang pengetahuan atau dengan kata lain filsafat pengetahuan.
- Anton Suhono, Epistemologi adalah teori mengenai refleksi manusia atas kenyataan.
- The Liang Gie, Epistemologi adalah sebagai cabang filsafat yang bersangkutan dengan sifat dasar dan ruang lingkup pengetahuan,pra anggapan-pra anggapan dan dasar-dasarnya serta reabilitas umum dari tuntutan akan pengetatuan.
Epistemologi
adalah sangat diperlukan, sebuah kepastian dimungkinkan oleh suatu keraguan.
Terhadap keraguan ini epistemologi merupakan suatu obatnya. Apabila
epistemologi berhasil mengusir keraguan ini kita mungkin akan menemukan
kepastian yang lebih pantas dianggap sebagai pengetahuan.[3][3]
Filsafat pengetahuan adalah cabang
filsafat yang mempersoalkan masalah hakikat pengetahuan. Maksud dari filsafat
pengetahuan adalah ilmu pengetahuan kefilsafatan yang secara khusus hendak
memperoleh pengetahuan tentang hakikat pengetahuan.
Epistemologi adalah bagian dari filsafat yang membicarakan
tentang terjadinya pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat,
metode dan keshahihan pengetahuan. Jadi objek material epistemology adalah
pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan itu. Jadi
sistematika penulisan epistemologi adalah arti pengetahuan, terjadinya
pengetahuan, jenis-jenis pengetahuan dan asal-usul pengetahuan.
Menurut Conny
Semiawan dkk., epistemologi adalah cabang filsafat yang menjelaskan tentang
masalah-masalah filosofis sekitar teori pengetahuan. Epistemologi memfokuskan
pada maknapengetahuan yang dihubugkan dengan konsep, sumber dan kriteria
pengetahuan, jenis pengetahuan, dan sebagainya.[4][4]
Masalah utama dari epistemologi adalah bagaimana cara memperoleh
pengetahuan, Sebenarnya seseorang baru dapat dikatakan berpengetahuan apabila
telah sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan epistemologi artinya pertanyaan
epistemologi dapat menggambarkan manusia mencintai pengetahuan. Hal ini
menyebabkan eksistensi epistemologi sangat urgen untuk menggambar manusia
berpengetahuan yaitu dengan jalan menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah
yang dipertanyakan dalam epistemologi. Makna pengetahuan dalam epistemologi
adalah nilai tahu manusia tentang sesuatu sehingga ia dapat membedakan antara
satu ilmu dengan ilmu lainnya.
E. RUANG LINGKUP FILSAFAT PENDIDIKAN
ISLAM
Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam sama halnya
dengan Obyek Filsafat Pendidikan Islam. Obyek Filsafat Pendidikan Islam sama
dengan Filsafat pada umumnya yaitu menyangkup hal yang tampak dan tidak. Hal
yang tampak meliputi dunia empiris sedangkan yang tidak tampak meliputi alam
metafisika. Adapun obyek formal Filsafat Pendidikan Islam adalah sudut pandang
yang menyeluruh, radikal, dan obyektif tentang pendidikan islam untuk dapat
diketahui hakikatnya.
Dalam konteks ini Obyek Filsafat Pendidikan Islam dibagi
menjadi dua yaitu makro dan mikro. Yang dimaksud makro adalah melihat filsafat
pendidikan islam dari sudut teoritis-filosofis, sedangkan maksud dari mikro
adalah melihat obyek filsafat pendidikan islam dari segi praktis-pragmatis
dalam sebuah proses pelaksanaanya.
Secara mikro, obyek kajian filsafat pendidikan islam
adalah hal-hal merupakan faktor atau komponen dalam proses pelaksanaan
pendidikan. Faktor atau komponen pendidikan ini umumnya ada lima, yaitu tujuan
pendidikan, pendidik, anak didik, alat pendidikan (kurikulum, metode, dan
penilaian pendidikan) dan lingkungan pendidikan.
Secara makro, obyek kajian filsafat pendidikan islam
adalah obyek formal filsafat itu sendiri, yaitu mencari keterangan secara
radikal mengenai Tuhan, manusia, dan alam yang tidak dapat dijangkau oleh
pengetahuan biasa. Filsafat pendidikan juga mengkaji ketiga obyek ini
berdasarkan ketiga cabangnya: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.[5][5]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Epistemologi
secara etimologis diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar dan dalam
bahasa Indonesia disebut filsafat pengetahuan. Secara terminologi epistemologi
adalah teori mengenai hakikat ilmu pengetahuan atau ilmu filsafat tentang
pengetahuan.
Metode
ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menjadi ilmu
pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan sangat
bergantung pada metode ilmiah. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong
oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integratif.
Sebagai
teori pengetahuan ilmiah, epistemologi berfungsi
dan bertugas menganalisis secara kritis prosedur yang ditempuh ilmu
pengetahuan. Epistemologi juga membekali daya kritik yang tinggi terhadap
konsep-konsep atau teori-teori yang ada.
filsafat ilmu merupakan telaah
kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang
ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Sebagai cabang
dari filasafat ilmu, epistemologi dapat menyangkut masalah-masalah filosofikal
yang mengitari teori ilmu pengetahuan atau bagian filsafat yang meneliti
asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan
menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Hadi,
P. Hardono,
Epistemolog Filsafat Pengetahuan
(Yogyakarta: Kanisius, 1994)
S. Suriasumantri, Jujun, Filsafat
Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 1990)
Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu
Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008)
Susanto, Filsafat
Ilmu, (jakarta : Bumi Aksara, 2011)
Wijaya, Askin, Nalar
Kritis Epistemologi Islam (Ponorogo: Komunitas Kajian Proliman, 2012)
Qomar, Mujammil,
Epistemologi Pendidikan Islam: Dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik, (
Jakarta: Erlangga 2005)
http://runasa.blogspot.com/2012/12/makalah-perspektif-epistimologi.html
http://sadhumafia.wordpress.com/2013/06/10/hubungan-antara-filsafat-ilmu-dengan-epistemologifilsafat-dan-ilmu/
http://islammakalah.blogspot.co.id/p/blog-page_4.html
0 komentar:
Posting Komentar