Minggu, 15 Mei 2016

Filled Under:

MAKALAH PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP EPISTEMOLOGI EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN ISLAM




MAKALAH

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN ISLAM





















DISUSUN OLEH:

  • MUHAMAD KAMSUDIN
    NIM: 141415056

DOSEN PEMBIMBING: MUHAMMAD RIFA’I



SEKOLAH TINGGI ISLAM RAHMANIYAHSEKAYU

KAMPUS E BAYUNG LENCIR

T.A. 2016





KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan kepada kita sehingga kita bisa merasakan indahnya nikmat iman dan islam.

Alhamdulillah,berkat keridoa-Nya kami bisa menyusun makalah yang bertemakan Pengertian dan Ruang lingkup Epistemologi Pendidikan Islam dapat terselesaikan sesuai yang diharapkan. Makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas dari mata kuliah ilmu kalam. Kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Pak Muhammad Rifa’I,M.A. yang telah memberi kesempatan kepada kami untuk membahas tema ini. Semoga makalah ini bisa menjadi bahan bacaan dan pembalajaran yang bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan kita bersama





Bayung lencir,23 Maret 2016

                                                                                                                         Penyusun





                                                                                                                  Muhamad Kamsudin



































BAB 1

PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang

Globalisasi cepat atau lambat dipastikan akan dihadapi oleh manusia. Secara logis masalah yang akan dihadapi manusia semakin kompleks dan transenden serta memerlukan pemecahan masalah yang sistematis dan kontinuitas. Dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin kompetitif ini, masih banyak para praktisi muslim memiliki komitmen untuk lebih memprioritaskan pendidikan religiusitas dibandingkan pendidikan umum lainnya. Sekaligus mengabaikan dan menolak segala pesan dan invensi perkembangan yang dibawa oleh komuniti Barat. Sehingga mempermudah mereka untuk menanamkan idealisme sekuleristik terhadap masyarakat muslim. Moralitas, akhlak, dan nilai-nilai islamiyah menjadi bagian yang tabu dan tidak lagi membatasi manusia antara kekufuran dan kemaslahatan dan jika dibiarkan berlarut-larut akan mengantarkan Islam pada kemunduran dan kehancuran, Antisipatif problema seperti ini yang harus direncanakan seoptimal mungkin. Hal ini mengindikasikan bahwa umat muslim harus mampu mengadopsi serta memfilterisasi setiap budaya dan perkembangan yang masuk. Upaya pembenahan ini dapat dilakukan melalui pendidikan, yaitu menciptakan sumber daya manusia yang utuh, yang selalu bertanggung jawab terhadap keberadaannya didunia dan merencanakan untuk kehidupan akherat. Sehingga keseimbangan antara dunia dan akherat yang menjadi tujuan terakhir manusia sebagai khalifah Allah SWT dapat di aktualisasikan dengan maksimal.

Persoalan epistemologi  sangat dipandang serius sehingga filosof Yunani, Aristoteles, berusaha menyusun kaidah-kaidah logika sebagai aturan dalam berpikir dan berargumentasi secara benar yang hingga sampai sekarang ini masih digunakan. Adanya kaidah itu menjadi penyebab berkembangnya penangkapan akal yang dapat di pertanggung jawabkan.

Sebenarnya,  epistemologi bukanlah permasalahan pertama yang muncul dalam tradisi pemikiran manusia. Dahulu, aktifitas berfikir manusia, terutama filsafat, dimulai dari wilayah metafisika. Di antara pertanyaan-pertanyaan metafisika yang muncul waktu itu adalah: Apa itu Tuhan? Apa yang dimaksud dunia ? Apa itu jiwa ? Mereka mendapatkan berbagai jawaban tentang pertanyaan- pertanyaan tersebut, masing-masing saling bertentangan. Berawal dari fakta ini, mereka tidak lagi mengarah pada petanyaan pada dunia luar, tetapi mereka mengarah kepada aktifitas mengetahui itu sendiri.  Di sinilah manusia mulai masuk kedalam ranah epistemologi.[1][1]

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa Pengertian Epistemologi ?

2    Apa saja Objek / Ruang Lingkup Epistemologi?

C.    Tujuan Masalah

1.      Mengetahui pengertian dari Epitemologi.

2.      Mengetahui ruang lingkup Epistemologi.




BAB II

PEMBAHASAN



A.      Pengertian Epistemologi

Secara linguistik kata “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu: kata “Episteme” dengan arti pengetahuan dan kata “Logos” berarti teori, uraian, atau alasan. Epistemologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan yang dalam bahasa Inggris dipergunakan istilah theory of knowledge.[2][2] Istilah epistemologi secara etimologis diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar dan dalam bahasa Indonesia disebut filsafat pengetahuan. Secara terminology, ada beberapa pendapat yaitu :

  1. Dagobert D.Runes dalam bukunya “Dictionary of Philisophy”,mengatakan Epistemologi sebagai cabang filsafat yang menyelidiki tentang keaslian pengertian,struktur,mode,dan validitas pengetahuan.
  2. Harun Nasution dalam bukunya “Filsafat Agama”,mengatakan bahwa Epistemologi adalah ilmu yang membahas apa pengetahuan itu dan bagaimana memperolehnya.
  3. Fudyartanto,mengatakan bahwa Epistemologi adalah ilmu filsafat tentang pengetahuan atau dengan kata lain filsafat pengetahuan.
  4. Anton Suhono, Epistemologi adalah teori mengenai refleksi manusia atas kenyataan.
  5. The Liang Gie, Epistemologi adalah sebagai cabang filsafat yang bersangkutan dengan sifat dasar dan ruang lingkup pengetahuan,pra anggapan-pra anggapan dan dasar-dasarnya serta reabilitas umum dari tuntutan akan pengetatuan.

Epistemologi adalah sangat diperlukan, sebuah kepastian dimungkinkan oleh suatu keraguan. Terhadap keraguan ini epistemologi merupakan suatu obatnya. Apabila epistemologi berhasil mengusir keraguan ini kita mungkin akan menemukan kepastian yang lebih pantas dianggap sebagai pengetahuan.[3][3]

Filsafat pengetahuan adalah cabang filsafat yang mempersoalkan masalah hakikat pengetahuan. Maksud dari filsafat pengetahuan adalah ilmu pengetahuan kefilsafatan yang secara khusus hendak memperoleh pengetahuan tentang hakikat pengetahuan.

Epistemologi adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan keshahihan pengetahuan. Jadi objek material epistemology adalah pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan itu. Jadi sistematika penulisan epistemologi adalah arti pengetahuan, terjadinya pengetahuan, jenis-jenis pengetahuan dan asal-usul pengetahuan.

Menurut Conny Semiawan dkk., epistemologi adalah cabang filsafat yang menjelaskan tentang masalah-masalah filosofis sekitar teori pengetahuan. Epistemologi memfokuskan pada maknapengetahuan yang dihubugkan dengan konsep, sumber dan kriteria pengetahuan, jenis pengetahuan, dan sebagainya.[4][4]

Masalah utama dari epistemologi adalah bagaimana cara memperoleh pengetahuan, Sebenarnya seseorang baru dapat dikatakan berpengetahuan apabila telah sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan epistemologi artinya pertanyaan epistemologi dapat menggambarkan manusia mencintai pengetahuan. Hal ini menyebabkan eksistensi epistemologi sangat urgen untuk menggambar manusia berpengetahuan yaitu dengan jalan menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah yang dipertanyakan dalam epistemologi. Makna pengetahuan dalam epistemologi adalah nilai tahu manusia tentang sesuatu sehingga ia dapat membedakan antara satu ilmu dengan ilmu lainnya.

E.       RUANG LINGKUP FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

            Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam sama halnya dengan Obyek Filsafat Pendidikan Islam. Obyek Filsafat Pendidikan Islam sama dengan Filsafat pada umumnya yaitu menyangkup hal yang tampak dan tidak. Hal yang tampak meliputi dunia empiris sedangkan yang tidak tampak meliputi alam metafisika. Adapun obyek formal Filsafat Pendidikan Islam adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan obyektif tentang pendidikan islam untuk dapat diketahui hakikatnya.

            Dalam konteks ini Obyek Filsafat Pendidikan Islam dibagi menjadi dua yaitu makro dan mikro. Yang dimaksud makro adalah melihat filsafat pendidikan islam dari sudut teoritis-filosofis, sedangkan maksud dari mikro adalah melihat obyek filsafat pendidikan islam dari segi praktis-pragmatis dalam sebuah proses pelaksanaanya.

            Secara mikro, obyek kajian filsafat pendidikan islam adalah hal-hal merupakan faktor atau komponen dalam proses pelaksanaan pendidikan. Faktor atau komponen pendidikan ini umumnya ada lima, yaitu tujuan pendidikan, pendidik, anak didik, alat pendidikan (kurikulum, metode, dan penilaian pendidikan) dan lingkungan pendidikan.

            Secara makro, obyek kajian filsafat pendidikan islam adalah obyek formal filsafat itu sendiri, yaitu mencari keterangan secara radikal mengenai Tuhan, manusia, dan alam yang tidak dapat dijangkau oleh pengetahuan biasa. Filsafat pendidikan juga mengkaji ketiga obyek ini berdasarkan ketiga cabangnya: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.[5][5]






           

BAB III

PENUTUP



A.      Kesimpulan

Epistemologi secara etimologis diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar dan dalam bahasa Indonesia disebut filsafat pengetahuan. Secara terminologi epistemologi adalah teori mengenai hakikat ilmu pengetahuan atau ilmu filsafat tentang pengetahuan.

Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan  sangat bergantung pada metode ilmiah. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integratif.

Sebagai teori pengetahuan ilmiah, epistemologi berfungsi dan bertugas menganalisis secara kritis prosedur yang ditempuh ilmu pengetahuan. Epistemologi juga membekali daya kritik yang tinggi terhadap konsep-konsep atau teori-teori yang ada.

filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Sebagai cabang dari filasafat ilmu, epistemologi dapat menyangkut masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan atau bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat.




DAFTAR KEPUSTAKAAN



Hadi, P. Hardono,  Epistemolog Filsafat Pengetahuan  (Yogyakarta: Kanisius, 1994)

S. Suriasumantri, Jujun, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 1990)

Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008)

Susanto, Filsafat Ilmu, (jakarta : Bumi Aksara, 2011)

Wijaya, Askin, Nalar Kritis Epistemologi Islam (Ponorogo: Komunitas Kajian Proliman, 2012)

Qomar, Mujammil, Epistemologi Pendidikan Islam: Dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik, ( Jakarta: Erlangga 2005)

http://runasa.blogspot.com/2012/12/makalah-perspektif-epistimologi.html

http://sadhumafia.wordpress.com/2013/06/10/hubungan-antara-filsafat-ilmu-dengan-epistemologifilsafat-dan-ilmu/


http://islammakalah.blogspot.co.id/p/blog-page_4.html








[1][1]Askin Wijaya, Nalar Kritis Epistemologi Islam (Ponorogo: Komunitas Kajian Proliman, 2012), 22
[2][2] Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 53
[3][3] P. Hardono Hadi,  Epistemolog Filsafat Pengetahuan  (Yogyakarta: Kanisius, 1994), 13-18
[4][4] Susanto, Filsafat Ilmu, (jakarta : Bumi Aksara, 2011), 102
[5][5] Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, hlm. 16

0 komentar:

Posting Komentar